Showing posts with label muzdakarah dakwah. Show all posts
Showing posts with label muzdakarah dakwah. Show all posts

Friday, December 24, 2010

Khuruj Fisabilillah




Khuruj Fisabilillah adalah sebuah methode mendekatkan diri kepada Allah swt.ini buakan lah Aliran sesat

Kalau itu dibilang Jihad memang jihad, berdasarkan (dalilnya) bahwa jihad yang paling besar itu kata Nabi adalah melawan Hawa nafsu. Melawan hawa nafsu - meninggalkan apa yang dicintai, disenangi dan disukai. Sasaran akhirnya adalah surat At Ttaubah ayat 24:

Katakanlah: "jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Kalau Jumlah harinya, samalah dengan itikaf dan tidak mengikat. Ada 10 hari seperti di akhir bulan ramadhan. Boleh itikaf 10 hari boleh 1 hari bagi pelajar, boleh 3 hari. Kenapa 3 hari. Karena bertamu itu hanya dibolehkan 3 hari. Jadi selama 3 hari 1 Mesjid. Tidak menyalahi sebagai seorang tamu. Kalau 10 hari berarti 4 mesjid.. Apakah itikaf itu tidak ada dalilnya ?Pada intinya apapun didunia ini mengalami proses. Tak ada yang buang percuma, detik demi detik, itulah ketentuan Allah. Nah detik demi detik tsb apakah ia berada di dalam suasana agama atau sedang bukan dalam suasana agama. Orang-orang yang khuruj Itikaf 3 hari sedang dalam suasana Agama. Detik demi detik selama 3 hari pasti sedang mngalami proses. Disaat itikaf ada kegiatan agama yang lain. Seperti dakwah ilallah, taklim wataklum, zikir ibadah dan khidmat inilah  4 amaln ambiya....


 Kita bandingkan bagaimana proses Allah swt yang terjadi, detik demi detik tetapi bukan dalam suasana agama. Yakni dalam suasana pengeraman telor ayam. Namanya pengeraman, namun ada kegiatan lain didalamnya atau tertibnya.. Seperti temperatur harus konstan, kelembapan dan sirkulasi udara terjada, yang penting lagi harus dibolak balik. Begitulah hari demi hari sehingga setelah 21 hari maka proses Allah betul betul membuahkan hasil, yaitu  telor menjadi seeokor  ayam.

 
Namanya Itikaf 3 hari. Kegiatannya sholat wajib dan sholat sunat. Sholat Wajib 5 waktu sholat sunat sebelum dan setelahnya. Kemudian sholat Israq, sholat duha, Sholat hajat, sholat tobat, sholat tahajud, sholat witir dan sholat tasbih. Tidak boleh keluar mesjid tanpa izin amir. (imajinasikan ayam yg mengeram tidak boleh sering turun dari sangkarnya) Kegiatan berikutnya, baca Buku Fadilah Amal ( Fadilah alquran, fadilah sholat, fadilah zikir, fadilah tabligh, kisah kisah sahabat), Fadilah sedekah (keutamaan menginfakkan harta, celaan terhadap kebakhilan, pentingnya zakat dan keutamaannya, ancaman bagi yang tidak menunaikan zakat, anjuran supaya zuhud-qana’ah dan tidak meminta minta, Kisah para akhli zuhud dan dermawan, serta pentingnya ingat akan mati dalam bab anjuran supaya zuhud –qana’ah Hadits ke 19 hal 522), membaca buku Kumpulan hadits-hadits shoheh (Munttakhab Ahadits) dalil dalil 6 sifat. Muzakarah adab adab sunah, muzakarah 6 sifat. Membaca buku khuruj fisabilillah, doa masnunah dsbnya. Kegiatan berikutnya Silaturrahmi kepada tetangga sekitar Mesjid. Jauh saling mendoakan dekat saling silaturrahmi. Diantara pembicaraan dunia sdr yang dikunjungi diselipkan pembicaraan kebesaran Allah swt. "Adakah perkataan yang lebih baik dari pada mengingatkan orang kepada Allah ?" Kemudian Jaulah, jaulah adalah tulang punggung dakwah, dakwah adalah tulang punggung agama. Jaulah intinya mengingatkan sdr-sdr seiman (yang sama sama mengucapkan kalimah La ilaha illallah ) tentang pentingnya iman dan amal sholeh serta "mengingatkan" kepada hari akhirat yang tidak nampak. Karena sifat manusia pelupa, yang nampak saja sering lupa apalagi yang tidak tampak. Itupun ada arahan arahannya kepada siapa bersilaturrahmi. Kalau dia ahli mesjid, paham agama dan berilmu seperti sdr salafy maka kita mintakan doa kepadanya, untuk menghargai mereka. Itupun kalau mereka mau disilaturrahmii. Disaat Jaluah inilah kita menemukan 4 karakter manusia yang mirip seperti apa yang ditemui Rasulullah, seperti Abu Jahal, Abu Tholib, Abu Bakar dan Abu Syofian.

Jadi kegiatan tsb betul-betul full, melelahkan dan perlu istirahat siang. Karena malamnya sibuk zikir dan tahajud. Maka masyarakat kalau melihat disaat itu akan berkata : “ Apa kerja orang orang berjenggot ini, siang hari tidur tidur di Mesjid, sementara masyarakat sekitarnya kerja.” (walau) padahal mereka yang mengatakan kerja itu kadang kadang istrahat juga, istrahatnya bukan tidur, tapi kumpul dikedai kopi. Kalau kerja malam maka mereka tidur juga. Sebetulnya kalau kita tahu kesibukan mereka tidak perlu dipermasalahkan.
Nah kalau kegiatan mereka itikaf di Mesjid 3 hari telah selesai, kemudian pindah mesjid lagi. Sebelum pindah ada adab adabnya seperti sebelum masuk mesjid juga ada adab adabnya. Membacakan adab perjalan dan berdoa. Tak lupa khidmad Mesjid setiap meninggalkan mesjid. Sambung lagi Mesjid yang lain selama 3 hari lagi, kalau mereka 40 hari maka diperkirakan 13 Mesjid telah dikunjungai, termasuk masyarakat sekitarnya. Hari yang ke 39 kembali kemarkas (Mesjid) untuk dibayan wabsi, atau nasehat utk pulang.
Jadi kegiatan selama itikaf di Mesjid, dakwah Ilallah, taklim wataklum zikir ibadah dan khidmad.
3 hari memberikan perobahan yang drastis. Kita tidak mengetahui bagaimana proses Allah terjadi kepada seorang preman yang berusaha bertobat dan mendekatkan diri kepada Allah swt, kemudian Allah swt menyambutnya dengan memberikan hidayah. Ada kekuatan untuk mengamalkan perintah-perintah Allah swt. (jangan kita ribut, atau menuduh yang bukan bukan, hidayah adalah proses Allah). Biji bayam fitrah atau kejayaan hidupnya dimana ? Allahswt telah meletakkan kejayaanya didalam tanah. Nah kalau biji bayam dibenam kedalam tanah atas proses Allah swt maka berkecambahlah dia, butuh berapa hari ? Telor itik menjadi seekor itik butuh proses Allah swt, berapa hari ? Sperma (maaf)yang antum tumpahkan dirahim istri butuh berapa hari atau bulan menjadi seorang manusia ? Kenapa biji bayam, sperma, telor itik ditarok diluar tidak mengalami perobahan ? Karena bukan tempatnya. Jadi untuk mengalami perobahan ada tempat yang cocok untuk masing masingnya. Manusia mengalami perobahan Allah letakkan dalam pengamalan agama tempatnya ditaman taman sorga atau Mesjid. Kalau dirumah ? Hanya ilmu yang bertambah, tetapi kekuatan beramal atau hidayah wallahu’alam. Kenapa? karena hidayah adalah hak prerogative Allah swt.
Ada orang karena merasa berilmu kemudian ngomong, “ Saya lebih ikhlas sholat dirumah saja, ketimbang di mesjid tetapi merasa terpaksa (mungkin maksudnya sholat subuh dan isya).Ini sama artinya dengan : “saya lebih ikhlas mencuri dari pada terpaksa bekerja” Atau ada yang lebih gila lagi “ Orangnya beriman tetapi tidak berilmu” tetapi yang ngomong ini tidak berani mengatakan “ Orangnya berilmu tetapi tidak beriman” Menurut dia mana ada orang berilmu yang tidak beriman. Padahal kalau kita perhatikan orang yang berilmu tak berimanlah yang paling banyak mengisi dunia ini.
Tadi ada yang mengatakan, waktu Nabi saw berdakwah bukan orang orang bodoh yang dikirm tetapi orang orang yang berilmu seperti Ali bin Abu Tholib dsbnya. Apakah Ali ra seorang diri saja yang dikirim ? tentu bukan, bukan. Ali ra adalah amir rombongannya. Karena untuk bepergian rasulullah menganjurkan minimal 2 orang agar terbentuk jemaah bila sholat di perjalanan. Diantara robongan Ali ra tsb tentu ada juga yang ilmunya masih kurang disbanding Ali ra. Begitu juga rombongan Jemaah Tabligh, ada amirnya, ada hafisnya ada alimnya dan ada juga yang masih bodoh. Dalam segi Ilmu ia lemah tetapi dalam segi menghidmat sdrnya ia ikhlas. Bukankah itu relatf ?
Dibeberapa Mesjid banyak Salafy menghidupkan itikaf sepuluh hari diakhir ramadhan. Itu sangat bagus. Satu hari membayar untuk buka dan sahur dll Rp 25.000 per hari / kepala. Kalau 10 hari Rp. 250.000. untuk satu mesjid saja. Ada yang campur, wanita dan laki laki ada laki laki saja dari remaja hingga tua. Banyak kegiatan agama dilakukan. Setelah selesai tentu perlu dievaluasi. Adakah jemaah mengalami peningkatan amal mereka setelah selesai, terutama amalan wajib, seperti sholat berjemaah ? Kalau ilmu jelas bertambah, karena mereka mendatangkan ustaz ustaz pintar. Tentu sesuai dengan kemampuan mereka. Mereka itu di Mesjid yang 3 hari yang berstatus Tamu, 7 hari berikutnya status mereka jelas bukan tamu lagi.
Nah sekarang coba bandingkan dengan Jemaah Tabligh yang itikaf selama 3 hari, melakukan kegiatan Agama juga tetapi lebih komplek. Satu hari masing masing bayar Rp.10.000 untuk keperluan makan 3 kali dan snack serta susu. Tidak ada untuk pengeluaran lain. Setelah 3 hari terjadi perobahan yang signifikan, bayangkan dari preman menjadi akhli ibadah. Memang umat akhir zaman tidak diciptakan sebagai akhli ibadah saja tetapi sebagai akhli dakwah. Untuk menjadi akhli dakhwah harus akhli ibadah dulu atau sejalan kedua duanya. Seperti kata Nabi sampaikanlah walaupun satu ayat.
Akhli ibadah belum tentu akhli dakwah, dan akhli dakwah harus akhli ibadah. Kalau tidak ia akan jadi munafik. Ilmu disampaikan tetapi ilmu tidak diamalkan ! Ciri cirri munafik berkata bohong. Bohong bukan sekedar kata katanya saja bohong , kata katanya benar tetapi orang lain disuruhnya dia sendiri tidak melakukannya. Umumnya orang seperti ini yang banyak mengetahui Ilmu, berilmu. Tetapi tidak ada kekuatan mengamalkannya. Ciri ciri munafik yang lain, kalau berjanji sering tidak ditepati dan kalau dipercaya sering khianat.
Ada ustaz yang mengartikan kalau sudah sudah ada ciri ciri ketiganya baru dikatakan munafik tulen. Kalau Nabi saw memanggil orang munafik itu adalah orang yang tidak sholat subuh dan isya berjemaah. “ Kalaulah orang orang munafik tersebut mengetahui manfaat salat subuh dan isya berjemaah maka ia pasti mendatanginya sekalipun dengan merangkak”. Dan orang munafik tersebut kata Allah swt kekal didalam Neraka sesuai dengan surat at taubah ayat 68. Bahkan dikerak keraknya neraka. Munafik itu lahirnya Muslim hatinya kafir. Dan ajibnya lagi Sifat munafik tsb akan terbebas dari seseorang apa bila ia mampu sholat berjemaah 5 waktu selama 40 hari berturut turut tanpa tertinggal takbirratul ula. Bahkan dua kekbebasan, bebas sifat munafik dan bebas api neraka.
Kok bisa dengan solat berjemaah saja…? Itulah proses Allah swt.
Masuk sorga dengan bebas api neraka lain, nggak sama, walau sama sama masuk sorga. Masuk sorga bisa jadi masuk neraka dahulu, sementara bebas api neraka artinya langsung masuk sorga.
Makanya didalam 6 sifat para sahabat, setelah beriman, meyakini Allah dan RasulNya yang kedua Sholat khusuk wal khuduk, kemudian ilmu maha zikir, ikramul muslimin, ikhlas dan terakhir dakwah wat tabligh. Itu adalah kerangka dakwah para sahabat, dakwahnya orang orang salaf. (Jangan bangga kita dibilang orang salafy tetapi tidak salaf, maksudnya berilmu saja, tetapi sholat subuh dan isya dirumah). Kerja para sahabat diantaranya mengajarkan orang orang kafir cara sholat sebelum mereka masuk islam. Kemudian baru amalan amalan lain ditambahkan. Termasuk para sahabat itu berdakwah dan bertabligh. Orang orang sekarang menyebutnya jemaah tabligh. Tetapi orang jemaah tabligh belum tentu semua seperti sahabat. Kita “semua” (Salafy, JT dll) sedang meniru-niru seperti sahabat. Sedang berusaha ikut seperti sahabat (sahabat berdakwah kemana mana). Sehingga nantinya insya Allah seperti sahabat. Barang siapa meniru niru suatu kaum maka dia digolongkan kepada kaum tsb.

Mungkin itu yang bisa saya jelaskan tentang Jmaah Tabligh ini. Sebetulnya masih banyak lagi nusroh Allah yang terasa itupun sesuai dengan tingkat pengorbanan kita terhadap agama ini. Pengorbanan untuk Agama Islam berbeda dengan pengorbanan untuk orang orang islam. Lalu ada yang berkata : “Kenapa keluarga dikorbankan / ditinggalkan, kan masih bisa itikaf di mesjid sendiri, dakwah di lingkungan sendiri dan masih banyak yang belum mengamalkan agama”. Kalau cara berfikir antum tersebut diamalkan oleh para sahabat dizaman Rasulullah, maka agama islam tidak akan sampai kepada kita semua. Ketahuilah disaat Rasulullah wafat, di Medinah masih ada orang kafir bahkan seminggu kemudian muncul nabi palsu. Kenapa bukan Madinah dibereskan dahulu kenapa jemaah dikirim juga ke negeri Cina dan seantero dunia.? Itulah sunnahnya.
Yang benar datangnya dari Allah yang salah adalah kelemahan dan keboodohan saya. Kepada Allah.swt saya meminta ampun dan mohon maaf kepada sdr sdr. Terakhir ada nggak yang lebih baik dari kerja para sahabat, memperbaiki diri, beribadah, dan berdakwah.ke seantero daerah dan dunia.
Subhanakallahumma wa bihamdika Asyhadu Alla ilaaha illa Anta, astaghfiruka wa Atuuba Ilaika
http://myquran.com/forum/showthread.php/19282-Khuruj-Fisabilillah

Bismillahirrohmaniirrohim Saya ingin sekali lebih mendekatkan diri kepada Allah, di tengah kesibukan keduniaan dan fatamorgana dunia. Ketemulah saya dengan khuruj ini sebagai salah satu jalan di antara ribuan jalan lainnya.Dimulai perjalanan di Masjid kecil di Subang. Dipimpin oleh seorang Amir lulusan pesantren yang besar di Jawa timur, beliau sangat fasih dengan dalil” dan hadist”. Beranggotakan sembilan orang, bahkan ada dua orang dari anggota kami yang hafiz Al Qur'an (Subhanallah). Banyak pengetahuan agama yang dibabarkan oleh beliau (Amir), yang tidak semata diambil dari buku tapi dari berbagai pengalaman pahit getir kehidupan di dunia.Dimulai dengan kisah asalnya khuruj, kemudian diterangkan berbagai adab/aturan.Adab makan, adab berpakaian, adab bicara, adab di kamar kecil, adab taklim, adab jaulah, adab memasuki dan berada di Masjid, adab tidur di Masjid, adab musyawarah dll. Yang lebih penting tentang keutamaan sholat fardhu berjamaah tepat waktu dan sholat” sunnah lainnya. Kisah Nabi Muhammad dan para sababat beliau (RA). Disinilah kutemukan kedamaian, arti dari persaudaraan, persamaan, tiada murid dan guru di antara kami, saling membagi ilmu, saling keterikatan antara hati kami.

Bahkan seorang kyai yang di pesantrennya selalu dihormati oleh para santrinya dan dimuliakan oleh masyarakat, memasak makanan buat kami. Berlepotan bau asap dan bau bumbu dapur. Kemudian kami makan bersama” dalam satu piring atau wadah yang sama memakai tangan langsung. Diiringi dengan sunnah rosul, mencicipi garam terlebih dahulu, yang berfungsi menghindarkan/menghilangkan 70 penyakit di badan (Sungguh ironis dari kehidupan kita sehari”, yang selama ini makan dengan piring, sendok, garpu dan makanan yang mahal tentu saja yang sangat lezat, appertizer, dissert, tak peduli berapapun harganya, lezat, nikmat, kenyang, tak peduli di sekitar kita banyak yang kekurangan atau kelaparan). Bagi yang belum pernah merasakan pasti ada rasa jijik/geli. Tapi aku terharu akan rasa kebersamaan itu, padahal dalam keluarga kamipun sudah dibiasakan makan dengan piring, minum dengan gelas tersendiri. Tapi, ketika kami memakan dalam kebersamaan inilah, walau dengan lauk pauk yang sederhana, kami merasakan suatu keistimewaan, betapa lezatnya rasa masakan ini. Sedap, nikmat, dan khas, tak bisa ditandingi oleh koki terkenal sekalipun dari penjuru dunia. Silakan kalau Anda ingin membuktikan.

Hari pertama kami lalui, setiap taklim diiringi doa, banyak yang menangis. Materi-materi yang disampaikan memberikan dorongan/inspirasi yang cukup kuat bagi saya untuk lebih rajin beribadah, tepat waktu dan berjamaah. Yang kedua, saya juga mendapat dorongan dan motivasi yang kuat untuk berkarir. Tapi tidak lupa untuk menyisihkan di Jalan Allah (shodaqoh).Aku berpikir, bahwa kami bukan mengajak orang untuk berbuat kebaikan, tetapi sebenarnya diri kami sendirilah yang diajak, harus banyak merenung (eling), berpikir lebih dalam dan lebih jauh tentang diri kami sendiri. Betapa kami dulu”nya sangat meremehkan ibadah. Tidak tepat waktu, dengan berbagai alasan kesibukan dunia dll. Betapa kami sangat pelit untuk mengeluarkan uang di jalan Allah. Betapa kami hanya takut atau sungkan terhadap orang karena jabatan, kedudukan, dan keduniaannya. Di sini kami diingatkan bahwa kami semua sama di mata Allah swt. Yang membedakan hanya iman/ibadah atau ketakwaannya.

Hari pertama, Tidur hanya beralaskan sajadah…. dan matras tipis. Kami tinggalkan springbed/kasur kami yang empuk di rumah. Kami tinggalkan keluarga yang kami cintai. Kegelimangan harta dunia yang selama ini mengelabui kebersihan iman kami.

Ya Allah… aku sedang berada di jalan-Mu….Aku sedang berada di rumah-Mu…Dzikir, kalimat” taubat selalu berkumandang dari bibirDan hatiku….Aku pejamkan mataku dari yang bathil…Aku cuci otakku….Aku pendam nafsuku dari eforia dunia…

Sekali lagi aku berdiam dalam kekosongan….istiqomah..... Bersambung

http://www.youtube.com/watch?v=zSfXcW9NfKo
  • digg
  • Facebook
  • Twitter
  • del.icio.us
  • StumbleUpon
  • reddit
***********************************Jadwal Puasa 1429 H / 2008 M
Comments


Kiyudi (Konsultan : 08161830337) # 3. July 2008, 07:23
Berdasarkan tempat berdakwah terbagi menjadi dua, yaitu intiqoli dan maqomi. Intiqoli yaitu dakwah di tempat orang lain atau kampung lain dengan berpindah atau dengan melakukan perjalanan dengan masa tertentu. Orang di sekitar tempat yang di datangi di harapkan akan memberi bantuan untuk kerja dakwah sehingga terjalin kerjasama antara pendatang dengan orang tempatan, sebagaimana kerjasama yang terjalin antara Sahabat muhajirin dan anshor di Madinah pada jaman Rasulullah saw. Sedangkan maqomi adalah dakwah di tempatnya masing-masing. Setiap pekerja di anjurkan untuk meluangkan beberapa jam setiap harinya untuk bersilaturahmi dengan orang-orang di sekitar tempatnya masing-masing untuk mendakwahkan agama.

Dalam berdakwah juga di kenal istilah amalan secara infirodi dan Ijtima’i. Infirodi yaitu amalan secara individu sedangkan ijtima’i secara berkelompok(berjamaah). Begitu pula dalam berdakwah juga bisa di lakukan secara infirodi maupun ijtima’i.

Pekerja dakwah di anjurkan untuk mengikuti tertib-tertib dan arahan-arahan yang di sepakati guna menjalankan dakwah, misalnya ketika keluar di jalan Allah (khuruj fi sabilillah) hendaknya memperbanyak da’wah ilallah, ta’lim wa ta’lum, dzikir wal ibadah,dan khidmat. Mengurangi masa makan dan minum, tidur dan istirahat, bicara sia-sia, keluar dari lingkungan masjid. Menghadapi segala kesulitan dengan sabar. Jangan menyinggung masalah politik, khilafiyah (perbedaan pendapat di kalangan ulama), status sosial, dan derma sumbangan dalam berdakwah (ketika keluar). (Tidak boleh menyinggung masalah politik dan khilafiyah karena membicarakan hal tersebut ketika keluar di jalan Allah bisa menimbulkan perdebatan dan perpecahan di antara jamaah). Dan masih banyak arahan-arahan lainnya.


Kiyudi (Konsultan : 08161830337) # 3. July 2008, 07:29
Untuk kawasan tertentu ada masjid yang di jadikan markaz (bahasa arab untuk kata centre/pusat). Di situlah biasanya para pekerja dakwah melakukan ijtima’ (pertemuan).

Dalam ijtima’ tersebut juga di bentuk jama’ah-jamaah yang akan di kirim ke berbagai tempat untuk berdakwah. Pada malam ijtima’ di adakan bayan (majelis penerangan untuk menerangkan maksud serta tujuan dakwah dan tabligh). Petugas bayan (mubayin) memberikan nasihat serta dorongan kepada para jamaah agar memikul tanggung jawab agama dengan cara mengorbankan sebagian dari harta, diri dan waktu, untuk keluar di jalan Allah. Bayan di akhiri dengan tasykil yaitu tawaran serta bujukan kepada para jamaah untuk mengorbankan sebagian harta, diri dan waktu untuk keluar di jalan Allah dengan masa tertentu dalam rangka mendakwahkan agama. Kemudian orang yang berniat untuk ikut keluar (khuruj fi sabilillah) mendaftarkan diri untuk di data. Di sana juga biasanya di bacakan kitab Hayatus-Shohabah yang berisi perjuangan dan pengorbanan para sahabat untuk agama, sehingga para jamaah bisa meneladani para sahabat r.a. dalam mengamalkan dan memperjuangkan agama. Dengan begitu juga bisa dirasakan bahwa pengorbanan para jamaah belum ada apa-apanya di bandingkan pengorbanan para sahabat r.a dalam membela agama. Orang yang mendapat tugas membaca kitab Hayatus-Sohabah haruslah orang ‘Alim(berilmu).

Kelebihan mereka dalam berdakwah adalah kerelaan mereka mengorbankan keperluannya untuk kepentingan dakwah. Mereka rela mengorbankan sebagian harta, diri dan waktu mereka untuk mendakwahkan agama sampai melewati batas pulau dan batas negara. Dalam berdakwah mereka siap di caci dan di maki, hal itu tidak akan menghentikan mereka. Hubungan antara pekerja dakwah ini sangat erat, mereka memiliki kesatuan hati yang sangat kuat, di dalamnya ada kasih sayang, dan semangat mengutamakan orang lain (itsar). Keindahan hubungan mereka dapat di lihat dari ijtima’-ijtima’ yang di adakan. Kasih sayang ini bukan hanya untuk sesama pekerja dakwah saja. Dalam berdakwah jamaah senantiasa berusaha menjalin hubungan dengan baik kepada orang-orang yang di temui. Dalam berdakwah di anjurkan menghindari perdebatan serta berdakwah dengan penuh hikmah dan bijak. Para Da’i di anjurkan menghadirkan sifat okromul muslimin (memuliakan sesama muslim) terutama kepada Ulama yang di jumpai.

Tidak ada paksaan dalam menjalankan usaha dakwah ini. Walaupun para masyaikh dan Syuro senantiasa memberi arahan-arahan dan nasihat dalam mengamalkan dakwah, tapi dalam pelaksanaanya apakah akan di amalkan atau tidak kembali kepada setiap individu.

Kiyudi (Konsultan : 08161830337) # 3. July 2008, 07:33
Para masyaikh(ulama) juga senantiasa mengingatkan kepada orang-orang yang bekerja di bawah usaha dakwah tersebut bahwa tujuan utama dalam mengamalkan dakwah tersebut adalah untuk memperbaiki diri (ishlah), memperbaiki orang lain bukanlah tujun utama mereka dalam berdakwah.

Amalan dakwah yang telah di konsepkan sangat bagus dan mulia, tapi yang menjalankan dan mengamalkan juga manusia biasa yang datang dari berbagai latar belakang. Tidak mungkin bisa terhindar dari kesalahan. Jika di cari-cari kekurangan mereka, tentu akan banyak di temukan, hal ini wajar. Di antara mereka sudah ada yang bertugas untuk mengarahkan dan meluruskan.

Secara realita kondisi umat saat ini pada umumnya sudah jauh dari apa yang di wasiatkan Rasulullah saw. Banyak masjid di bangun namun semakin sedikit yang memakmurkannya. Masjid sudah semakin megah namun semakin sepi dari amalan. Pemuda-pemuda kita lebih bangga menirukan gaya selebriti daripada Nabi kita. Kita sebagai Umat Islam tidak sadar telah ikut terbawa budaya barat. Kini agama, satu-satunya yang menjadi sebab kebahagiaan, kemuliaan dan kejayaan dunia akhirat di anggap sesuatu yang tidak penting sehingga di abaikan begitu saja. Dengan memberi ummat kitab tebal kemudian kita cuma berharap agar umat mengamalkanya sementara mereka belum memahami kepentingan agama merupakan perkara yang hampir mustahil.

Opini masyarakat terbentuk dari apa yang mereka lihat, masyarakat sudah kesulitan melihat kehidupan islam yang sesungguhnya. Cara bagaimana bermu’amalah, mu’asyaroh, berakhlak yang dulu pernah di ajarkan Rasulullah saw kini telah hilang dari umat Islam. Jika dulu ada yang bertanya bagaimana akhlak Rasulullah saw maka bisa di jawab akhlak beliau adalah Al-quran. Namun saat ini kehidupan Islami seolah-olah hanya di dalam buku-buku saja......

Di jaman sekarang ini, budaya materialisme sudah sangat kental dalam kehidupan masyarakat, masih adanya sekelompok orang yang mau berkorban untuk mendakwahkan agama merupakan suatu rahmat dari Allah swt yang seharusnya kita tolong dan kita syukuri.

Thola’albadru‘alaina mintsaniyatilwada’ wajaba syukru ‘alaina maada’alillahida’. (Telah terbit purnama di atas kita muncul dari tsaniyatul wada’, wajib bersyukur atas kita selama masih ada Da’i yang mengajak kepada Allah)……

Billahitaufiq Wal HidayahWassalammu’alaikum wr wb 

Wednesday, September 29, 2010

Rahmat Allah

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah telah menjadikan rahmat dalam seratus bahagian, maka ditahan pada-Nya yang sembilan puluh sembilan dan diturunkan dibumi satu bahagian, maka dengan satu bahagian itumasing-masing makhluk berkasih sayang sehingga kuda mengangkat kakinya kerana khuatir memijak anaknya.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Alhasan berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai seratus rahmat, diturunkan kebumi hanya satu rahmat untuk penduduk dunia, maka mencukupi hingga habis ajal mereka, dan Allah akan mencabut rahmat itu yang satu pada hari kiamat untuk mengenapkan pada yang sembilan puluh sembilan, untuk diberikannya kepada para wali dan ahli taat kepada-Nya.”
Abul-Laits berkata: “Rasulullah s.a.w. telah menerangkan kepada kaum mukmin rahmat Allah s.w.t. supaya mereka bersyurkur kepada yang telah memuliakan mereka dengan rahmat-Nya dan rahmat amal soleh, sebab siapa yang mengharapkan rahmat Allah s.w.t. harus beramal mengikut petunjukNya untuk mencapai rahmatNya. Allah s.w.t. berfirman:
“Inna rahmatallahi qaribun minal mukhsinin.” Yang bermaksud: “Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat pada orang-orang yang berbuat baik.”
“Faman kana yarju liqa’a rabbihi fal ya’mal amalan shaliha” Yang bermaksud: “Maka siapa yang mengharap mendapat rahmat dan bertemu kepada Tuhan-Nya, maka hendaklah beramal soleh.”
Ibn Abbas r.a. berkata: “Ketika turun ayat: “Warahmati wasi’at kulla syai’i.” Yang bermaksud: “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”, maka iblis laknatullah menonjol-nonjolkan diri sambil berkata: Saya termasuk dari sesuatu, tentu saya akan mendapat bahagian dari rahmat-Nya.” Demikian pula kaum Yahudi dan Nashara (Kristien), kemudian diturunkan lanjutannya: “Fasa aktubua lilladz ina yattaquna wayu’tunazzakat walladzina hum biayatina yuminun.” Yang bermaksud: “Maka Aku tetapkan rahmat-Ku pada orang-orang yang taqwa, jaga-jaga diri dari syirik dan mengeluarkan zakat, dan mereka percaya pada ayat-ayat Kami.”
Iblis laknatullah patah harapan untuk mendapat rahmat tetapi Yahudi dan Nashara merasa tidak syirik dan sudah mengeluarkan zakat dan percaya pada kitab Allah s.w.t. Kemudian turun ayat lajutannya: “Alladzina yattabi Uunarsulan nabiyyal ummiya.” Yang bermaksud: “Ialah mereka yang mengikuti rasul nabi yang ummi yaitu Nabi Muhammad s.a.w.” Sampai disini kaum Yahudia dan Nashara putus dari rahmat Allah s.w.t. Oleh sebab itu maka kewajipan utama bagi tiap-tiap orang mukmin memuji syurkur kepada Allah s.w.t. atas kurniaan nikmat iamn yang diberikan Allah s.w.t. kepadanya, disamping mengharapkan semoga segala dosa-dosanya diampunkan oleh Allah s.w.t.
Yahya bin Mu’adz Arrazi dalam doanya berkata: “Ya Allah, Engkau telah menurunkan satu rahmat dan memuliakan kami dengan rahmat beragama Islam, apabila melengkapkan rahmat yang merata, bagaimana kami tidak akan mengharapkan pengampunan-Mu.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Said Al-khudri r.a. berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Ada seorang masuk syurga tanpa amal kebaikan, hanyaketika ia akan mati berpesan kepada keluarganya: “Jika saya meninggal bakar mayatku dan tumbuk tulang-tulangku sampai halus kemudian abunya taburkan separuh didarat dan separuh dilaut, maka ketika mati, dilaksanakan wasiatnya. Maka Allah menyuruh darat dan laut supaya mengumpulkan abunya, kemudian ketika ditanya: “Mengapa kau berbuat sedemikian itu?” Jawabnya: “Kerana takut kepadaMu Tuhan. Maka Allah mengampunkan baginya kerana takutnya kepada Tuhan itu.”
Abul-Laits meriwayatkan dari Athaa’ dari seorang sahabat Rasulullah s.a.w. berkata: “Rasulullah s.a.w. datang kepada kami sedang kami tertawa. Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Apakah kamu tertawa sedang api neraka menanti dibelakangmu. Demi Allah, saya tidak senang melihat kamu tertawa.” Maka Rasulullah s.a.w. pergi membelakangi kami, sedang kami diam, seolah-oalh ada burung diatas kepala kami, kemudian kembali berjalan mundur kepada kami lalu bersabda: “Allah telah berfirman: “Nabbi’ibadi anni anal ghafuruuahim, wa anna adzabi huwal adzabul aliem” Yang bermaksud: “Mengapa kau mematahkan hati hambaKu, beritakan kepada mereka hambaKu bahawa Aku maha mengampun dan penyayang dan siksaKu, siksa yang sangat pedih.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr Al-ash berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada dosa yang tidak dapat diampunkannya, ada pada ummat yang sebelum kamu seorang yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang kemudian pergi kepada pendeta dan berkata: “Saya telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa, apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat?” Jawab pendeta: “Tidak ada, sebab perbuatanmu sudah melampaui batas.” Maka segera ia berdiri dan langsung membunuh pendeta itu sehingga genap yang dibunuh seratus orang. Kemudian pergi ke pendeta yang lain dan berkata: “saya telah membunuh seratus orang, apakah ada jalan bagiku untuk bertaubat?” Jawab pendeta itu: “Sebenarnya perbuatan mu sudah melampau dan saya tidak mengetahui, hanya disana ada dua dusun, yang satu bernama Bushro dan penduduknya orang-orang baik yang selalu mengerjakan amal ahli syurga, sedang yang lain bernama Kafrah, penduduknya hanya berbuat derhaka melakukan amal ahli neraka, maka bila kamu pergi ke Bushro dan mengikuti amal perbuatan mereka, maka jangan ragu bahawa taubat mu akan diterima.” Maka pergilah ia ke Bushro, dan ketika ia ditengah jalan jatuh mati, maka bertengkarlah Malaikat Siksa dan Malaikat Rahmat, sehingga bertanya kepada Tuhan. Maka disuruh: “Ukur saja maka kedusun mana ia lebih dekat, masukkan ia kegolongan penduduknya.” Tiba-tiba terdapat ia lebih dekat kedusun Bushro sekadar ujung jari, maka ia tercatat dari golongan penduduknya.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Mas’ud berkata: “Tiga macam yang saya berani bersumpah sedang yang keempat bila saya bersumpah pasti benar:
*Allah s.w.t. tidak akan memelihara seseorang didunia, kemudian diserahkan kepada lainNya dihari kiamat. *Allah s.w.t. tidak akan menyamakan orang yang mempunyai bahagian dalam Islam dengan yang tidak mempunyai bahagian. *Tidak seorang yang cinta pada suatu kaum, melainkan akan berkumpul dengan mereka pada hari kiamat. *Allah s.w.t. tidak menutupi hamba didunia melainkan pasti akan menutupinya diakhirat.
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Empat ayat surah Annisaa’ bagi kaum muslimin lebih baik dari dunia seisinya.”
Ayatnya ialah:
*Innallaha laa yagh firu an yusy roka bihi wayagh firu maa duna dzalika liman yasaa’u waman yusy rik billahi faqad iftara itsman adziima. Yang bermaksud: Allah tidak akan mengampuni pada orang yang syirik dan dapat mengampuni selain itu bagi siapa yang dikehendaki, dan siapa yang syirik (mempersekutukan Tuhan) maka ia telah berbuat dosa yang sangat besar.
*Walau annahum idz dhalamu anfusahum jauka fas taghfarullaha was taghfara lahumurraluuhu lawajadullaha tawwaba rahima. Yang bermaksud: Andaikan ketika mereka berbuat zalim itu datang kepadamu (Nabi Muhammad s.a.w.), lalu minta ampun kepada Allah dan dimintakan ampun oleh Rasulullah, pasti mereka akan mendapatkan Allah itu maha pengampun lagi penyayang.
*In taj tani bu kabaa ira maa tunhauna anhu nukaffir ankum sayyi aatikum wanud khilkum mud kholan kariima. Yang bermaksud: Jika kamu meninggalkan dosa-dosa yang besar yang telah dilarang, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosamu yang kecil-kecil dan memasukkan kamu dalam tempat yang mulia.
*Waman ya mal suu’a au yadh lim nafsahu tsumma yas tagh firillaha yajidillaha ghafuu ra rahima. Yang bermaksud: Dan siapa berbuat kejahatan atau menganiaya diri sendiri kemudian membaca istighfar (minta ampun) kepada Allah, pasti akan mendapatkan Allah maha pengampun dan penyayang.
Jabir bin Abdillah An-Anshari r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Syafaatku untuk orang-orang yang berdosa besar dari ummatku, siapa yang mendustakannya tidak akan mencapainya.” Jabir r.a. berkata: “Orang yang tidak berdosa besar tidak memerlukan syafaat sebagaimana ayat ketiga diatas.”
Muhammad bin Almunkadir dari Jabir r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. keluar kepada kami dan bersabda: “Malaikat Jibril tadi datang kepadaku dan berkata: “Ya Muhammad, demi Allah yang mengutuskan mu sebagai nabi yang besar, sesungguhnya ada seorang hamba Allah yang beribadat selama lima ratus tahun diatas sebuah bukit yang lebar, panjangnya tiga puluh hasta kali tiga puluh hasta dan dikelilingi oleh laut seluas empat ribu farsakh dari tiap penjuru, disitu Allah s.w.t. mengeluarkan sumber air yang segar selebar satu jari dari bawah bukit, juga pohon delima pada tiap hari berbuah sebuah delima, maka bila siang hari turunlah orang itu untuk wuduk dan memetik delima, lalu dimakannya, kemudian berdiri sembahyang dan ia minta kepada Tuhan supaya dimatikan dalam sujud, dan supaya badannya tidak disentuh bumi atau lain-lainnya hingga bangkit dihari kiamat sambil sujud, maka Allah s.w.t. telah menerima permintaannya, kerana itu tiap kami naik turun dari langit selalu melaluinya ia sedang sujud. Jibril berkata: “Kami dapat dalam ilmu, bahawa ia akan dibangkitkan pada hari kiamat dan dihadapkan kepada Allah s.w.t. , lalu Allah s.w.t. menyuruh: “Masukkanlah hambaKu itu kedalam syurga dangan rahmatKu.” Maka berkata orang itu: “Dengan amalku.” Maka Allah s.w.t. menyuruh Malaikat supaya menghitung semua amalnya dan nikmatKu iaitu nikmat melihat (penglihatan), tiba-tiba nikmat penglihatan itu telah mengelilingi ibadatnya selama lima ratus tahun, sedang nikmat-nikmat Allah s.w.t. yang lain-lainnya belum. Maka Allah s.w.t. berfirman: “Masukkan ia kedalam neraka.” dan ketika ditarik menuju keneraka, ia berkata: “Masukkanlah aku kedalam syurga dengan rahmatMu.”
Maka Allah s.w.t. berfirman kepada Malaikat: “Kembalikanlah ia.” Lalu ditanya oleh Allah s.w.t.: “Hambaku, siapa yang menjadikan kau daripada tidak ada?” Jawabnya: “Engkau Tuhan.” Lalu dutanya: “Apakah itu kerana amalmu atau rahmatKu?” Jawabnya: “Dengan RahmatMu.” Lalu ditanya: “Siapakah yang memberi kekuatan kepadamu untuk beribadat lima ratus tahun?” jawabnya: “Engkau Tuhanku.” Lalu ditanya lagi: “Dan siapakah yang menempatkan kau diatas bukit dan ditengah laut dan mengeluarkan air segar yang tawar dari tengah-tengah laut yang masin getir dan menumbuhkan buah delima tiap pagi, padahal buah itu hanya berbuah satu tahun satu kali, lalu kau minta kepadaKu untuk mati sujud, siapakah yang berbuat itu semua?” Jawabnya: “Engkau Tuhanku.” Firman Allah s.w.t. : “Maka semua itu dengan rahmatKu.” Malaikat Jibril berkata: “Segala sesuatu terjadi dengan rahmat Allah s.w.t..”
Alhasan r.a berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada berkumpul dua perasaan berharap pada rahmat Allah dan takut dari siksa Allah dalam hati seorang mukmin ketika akan mati melainkan pasti akan diberi oleh Allah harapannya dan dihindarkan dari ketakutannya.”
Abu Said Almaqburi dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada seorang diantara kamu yang dapat selamat kerana amalnya sendiri. Seorang sahabat bertanya: “Engkau juga tidak, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Saya juga tidak, kecuali Allah meliputi saya dengan rahmayNya, kerana itu sedang-sedanglah kamu dan tetapkan segala perbuatanmu dan beramal diwaktu pagi dan petang dan sedikirt diwaktu malam, sederhanalah supaya sampai dengan selamat.”
Anas r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Permudahkanlah dan jangan mempersukar dan gembirakan dan jangan menggusarkan.”
Ibn Mas’ud r.a. berkata: “Rahmat akan melimpah-limpah pada manusia dihari kiamat sehingga iblis laknatullah mengangkat kepalanya ingin mendapatkannya kerana luasnya rahmat Allah dan syafa’at orang-orang yang diberikan syafa’at oleh Allah s.w.t.”
Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Pada hari kiamat akan terdengar seruan dari bawah Arsy: “Ya ummat Muhammad, adapun dosa-dosamu terhadap Aku maka Aku maafkan bagi kamu dan tinggal yang terjadi diantara sesama kamu, maka maaf memaafkan diantara kamu dan masuklah kamu kesyurga dengan rahmatKu.”
Al-Fudhail bin Iyaadh berkata: “Rasa takut kepada Allah s.w.t. itu lebih baik bagi orang yang sihat tetapi jika ia sakit dan lemah (tidak kuat beramal) maka mengharap itu lebih baik, sebab jika sihat kuat untuk beramal taat dan meninggalkan maksiat sebaliknya bila telah sakit atau lemah maka mengharapkan rahmat itu yang lebih utama.”
Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Muhammad bin Alfadhel daro Ibn Abi Ruwad dari ayahnya berkata: “Allah s.w.t. menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.: “Hai Daud, gembirakan orang-orang yang berdosa, dan peringatkan kepada orang-orang siddiq.” Maka Nabi Daud a.s bertanya: “Bagaimana menggembirakan orang-orang yang berdosa dan mengancam orang-orang yang siddiq?” Allah s.w.t. berfirman: “Gembirakan orang-orang yang berdosa bahawa tidak ada dosa yang tidak dapat Aku ampunkan dan peringatkan pada orang siddiq supaya mereka tidak berbangga (sombong) dengan amal perbuatan mereka kerana bila Aku tegakkan keadilanKu dan perhitunganKu pada seseorang pasti binasa.”
Ibn Abi Ruwad dari ayahnya berkata: “Allah s.w.t berfirman: “Aku-lah Allah yang memiliki semua raja, hati raja-raja itu semua ditangan-Ku, maka tiap kaum yang Aku ridha. Aku jadikan hati raja itu rahmat pada mereka dan tiap kaum yang Aku murka, Aku jadikan raja itu siksa bagi mereka, kerana itu kamu jangan sibuk mengutuk raja dan taubatlah kamu kepadaKu nescaya Aku lunakkan hati mereka kepadamu.”
Al’alaa bin Abdirrahman dari ayahnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Andaikan orang mukmin mengetahui siksa yang disediakan Allah s.w.t. nescaya tidak akan mengharapkan syurgaNya seorang pun dan andaikata orang kafir mengetahui kebesaran rahmat Allah s.w.t. nescaya tidak akan merasa putus dari rahmat Allah s.w.t. seorangpun.”
Abu Ya’la lhusain bin Muhammad Annaisaburi meriwayatkan dengan sanadnya dari Ahmad bin Sahl berkata: “Saya bermimpi kelihatan Yahya bin Aktsam, maka saya bertanya kepadanya: “Apakah tang telah kau dapat dari Tuhanmu? jawabnya: “Saya dipanggil oleh Tuhan: “Hai orang tua yang jahat, kau telah berbuat ini dan itu.” Maka jawabku: “Ya Tuhan, tidak sedemikian yang saya dengar tentang Engkau.” Tuhan bertanya: “Apakah yang kau dengar tentang Aku?” Jawabku: “Saya telah mendengar dari Abdurrazzaq dari Ma’mar dari Azzuhri dari Urwah dari Aisyah r.a. dari Nabi Muhammad s.a.w. dan Jibril a.s. bahawa Engkau berfirman: ” Tiada seorang muslim yang telah beruban dalam Islam, maka saya akan menyiksanya melainkan saya malu untuk menyiksanya.” Sedang saya seorang yang telah sangat tua. Maka firman Allah s.w.t: “Benar Abdurrazzaq, dan benar Ma’mar dan benar Azzuhri dan benar Urwah dan benar Aisyah dan benar Nabi Muhammad s.a.w. dan benar Jibril dan benar apa yang Aku firmankan itu, ya Yahya. Aku tidak akan menyiksa orang tua yang beruban dalam Islam.” kemudian saya diperintahkan kesebelah kanan ke syurga.”
Umar r.a. berkata: “Dia masuk kepada Nabi Muhammad s.a.w., tiba-tiba ia mendapati Nabi Muhammad s.a.w. sedang menangis, maka ditanya: “Apakah yang menyebabkan engkau menangis, ya Rasulullah?” Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Saya telah didatangai oleh malaikat Jibril a.s. dan berkata kepadaku: “Sesungguhnya Allah malu akan menyiksa seorang yang telah beruban didalam Islam, maka bagaimana orang yang beruban tidak malu berbuat maksiat kepada Allah s.w.t.”
Abul-Laits berkata: “Kerana itu maka wajib bagi orang yang telah tua menyedari kehormatan ini dan bersyukur kepada Allah s.w.t. dan malu kepada Allah s.w.t. dan kepada kedua malaikat yang mencatat amalnya. Dan menghentikan segala maksiat dan selalu rajin taat kepada Allah s.w.t. sebab tanaman itu jika sudah dekat musim mengetam, tidak boleh ditunda-tunda dan demikian pula yang masih muda, harus bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan menjauhkan dari maksiat (dosa) serta rajin kepada taat, sebab dia tidak mengetahui bilakah tiba ajalnya, sebab bila pemuda itu rajin berbuat taat, ia akan mendapat naungan Allah s.w.t. pada hari kiamat dibawah arsy, sebagaimana tersebut didalam hadis yang diceritakan kepada kami oleh Abulhasan Alqasim bin Muhammad dari Isa bin Khosy Hafash dari Suwaid dari Malik bin Habib dari Abdurrahman bin Hafash dari Aashim dari Abu Hurairah r.a. berkata:
“Nabi Muhammad s.a.w. bersabda:” Tujuh macam orang yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat pada saat tidak ada naungan kecuali naungan Allah:
1.Imam (pemimpin yang adil).
2.Pemuda yang tumbuh dalam ibadat kepada Allah s.w.t.
3.Seorang yang hatinya tergantung pada masjid, jika keluar sehingga kembali (yakni rajin menjaga sembahyang berjama’ah).
4.Dua orang saling menyinta (Kasih sayang) kerana Allah s.w.t. baik ketika berkumpul atau berpisah.
5.Seorang yang ingat kepada Allah s.w.t. ketika bersendirian lalu mencucurkan airmata ketana takut kepada Allah s.w.t.
6.Seorang yang bersedekah dirahsiakan sehingga yang dikirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh kanannya.
7.Seorang lelaki yang dipanggil oleh wanita yang cantik untuk berzina, lalu ia berkata: “Saya takut kepada Allah azza wajalla.”


Tuesday, September 28, 2010

Keperluan hidup

Keperluan hidup manusia adalah :
1. Makan Minum
2. Rumah
3. Kendaraan
4. Pakaian
5. Pernikahan
Para sahabat Nabi keperluannya rendah tetapi maksud hidup tinggi. Sementara kita memiliki keperluan tinggi tetapi maksud hidupnya rendah. Keseharian kita hanya memikirkan bagaimana mendapatkan keperluan, tetapi para sahabat berpikir untuk selalu mengorbankan keperluan untuk mendapatkan maksud hidup.
Perbedaan orang beriman dengan orang kafir dalam menggunakan keperluan dan maksud hidup adalah :
1. MAKAN MINUM
Orang kafir : Makan dan minum untuk kesehatan dan kekuatan sebagaimana kaum A’ad sehingga mereka berkata : “Siapakah yang lebih kuat daripada Kami ……?”(QS. Fushsihlat: 15)

Orang beriman :
Makan Minum untuk beribadah agar bisa berdiri shalat dan mengerjakan ibadah lainnya. Jika makan dengan cara adab sunnah Rasulullah SAW maka akan diberi pahala oleh Allah SWT.

Makan Minum untuk Khalifah adalah agar bisa berkhidmat kepada sesama. Nabi SAW bersabda, “jika kalian mengangkat beban saudaramu ke punggung kudanya, maka akan dihitung sedekah, jika kalian mengisi ember saudaramu dengan air maka dihitung sedekah”

Makan Minum untuk dakwah, suatu jamaah diantar ke suatu rumah di Pakistan maka dihidangkan kepadanya air yang rasanya asin. Karena jamaah berniat dakwah maka Amir(sebutan untuk pemimpin jamaah) mengatakan, “Habiskan air asin tadi”.
Setelah jamaah pulang isteri pemilik rumah terlihat pucat, suaminya bertanya, “ada apa?”
Isterinya berkata,”Aku salah memasukkan gula ternyata aku memasukkan garam ke air minum mereka, bagaimana keadaan mereka?”
Suaminya berkata.”Tidak masalah, mereka biasa saja bahkan tampak senang.”
Isterinya berkata,”kalau begitu bapak harus ikut mereka karena mereka bukan orang biasa tetapi seperti malaikat yang berjalan-jalan di bumi.”

2. PAKAIAN
Orang kafir : tujuan menggunakan pakaiannya seperti burung merak yaitu untuk menarik lawan jenis dan untuk dipuji-puji.

Orang beriman :
Untuk Ibadah yaitu menutup aurat karena malu kepada Allah.

Untuk Khalifah yaitu untuk melayani umat sebagaimana kisah Hasan r.a cucu Nabi SAW. Beliau memakai pakaian mahal sehingga seorang Yahudi datang kepadanya dan berkata, “Ya Hasan, benarkah engkau cucu Rasulullah ?”
Hasan r.a. menjawab,”Ya, Kenapa ?”
Kata si Yahudi, “mengapa engkau menyelisihi kakekmu dengan berpakaian mewah padahal dunia adalah penjara bagimu dan surga bagi orang kafir?”. Si Yahudi melanjutkan, “kini kau lihat, aku berpakaian compang camping sementara kamu seperti di Surga?”
Hasan r.a. berkata,”Wahai Yahudi, seandainya kamu tahu pakaian apa yang akan kamu dapatkan di neraka, niscaya kamu akan memakai pakaian paling mewah di dunia ini karena tak merasakan lagi di akhirat. Aku memakai pakaian bagus ini agar orang miskin tahu kalau aku orang kaya agar mereka tak sungkan-sungkan meminta sedekah kepadaku.”

Untuk Dakwah, dengan pakaian yang digunakan orang akan mendapat hidayah dan ingat kepada Allah. Itulah sebabnya orang beriman mencontoh pakaian Rasulullah SAW dan para sahabat.

3. RUMAH
Orang kafir :
Rumah untuk kesombongan dan fungsinya hanya untuk restoran (untuk tempat makan keluarga), hotel (tempat tidur/istirahat) , WC (tempat buang air), gallery (tempat menyimpan barang-barang mewah), bioskop mini (tempat nonton TV keluarga), gedung pertemuan keluarga.

Orang beriman:
Untuk ibadah, Nabi SAW bersabda,”Shalatlah kamu (shalat sunnah) di sudut-sudut rumah kamu niscaya rumah kamu akan dipandang oleh penduduk langit bercahaya sebagimana kamu memandang bintang-bintang di langit.”

Untuk Khalifah, yaitu melayani ummat sebagaimana hadits yang menunjukkan bahwa hak tamu untuk dilayani adalah tiga hari, setelah hari ketiga maka dihitung sedekah.

Untuk Dakwah, yaitu bagaimana orang masuk ke rumah kita mendapat hidayah sebagaimana rumahnya Fatimah binti Khaththab. Umar bin Khaththab masuk ke rumahnya langsung mendapat hidayah, mengapa ? karena di dalam rumah hidup amalan masjid yaitu dakwah, ta’lim, ibadah dan khidmat.

4. KENDARAAN
Orang kafir :
Menggunakan kendaraan hanya untuk menyelesaikan urusan dunia saja, juga sebagai kesombongan dan status sosial.

Orang beriman :
Untuk Ibadah, seperti dipakai untuk pergi ke Masjid, silahturahmi dll.

Untuk Khalifah, yaitu untuk melayani saudara muslimnya, dipinjamkan untuk hajat muslimin

Untuk Dakwah, yaitu untuk berjuang di Jalan Allah. Nabi SAW bersabda, “seseorang yang memelihara kuda untuk digunakan jihad maka semua makanan, kotoran dan kencingnya dihitung sebagai kebaikan oleh Allah SWT”

Nabi SAW juga bersabda,”ada tiga hasil orang memiliki kendaraan, yaitu (1) orang yang mendapatkan Surga dari kendaraannya karena digunakan di jalan Allah SWT. (2) mendapat neraka karena dipakai untuk bermaksiat kepada Allah. (3) tidak memperoleh apa-apa di Akhirat karena hanya digunakan untuk keperluan dunia semata.”

5. PERNIKAHAN
Orang kafir :
Pernikahan mereka hanya untuk menyempurnakan nafsu saja dan mendapatkan keturunan.

Orang beriman :
Untuk Ibadah, sesuai sabda Nabi SAW, “orang yang sudah menikah shalat 2 rakaatnya lebih baik dari pada 70 rakaat orang yang belum menikah.”

Untuk Khalifah, yaitu dengan memiliki isteri kita bisa berkhidmat kepada tetangga sebagaimana hadis,”jika kamu masak, perbanyaklah kuahnya dan kirimkan kepada tetangga kamu.”

Untuk Dakwah, yaitu wanita/isteri dapat berdakwah sampai ke dapur-dapur tetangga kita, sedangkan laki-laki hanya sampai depan pintu saja. Kewajiban dakwah termasuk untuk wanita. Do’a-do’a wanita dalam dakwah sangatlah hebat melebihi do’a 70 wali Allah.




MAKSUD HIDUP UMMAT AKHIR ZAMAN
Sebuah benda jika tidak digunakan sesuai dengan maksud yang menciptakannya, maka benda ini tidak berguna dan lama-lama akan rusak. Begitu juga manusia, tidak ada gunanya dan akan rusak jika tidak sesuai dengan maksud penciptaannya. Yang mengetahui maksud hidup manusia, bukanlah isterinya, anaknya, ayahnya, pemerintahnya dsb. Mengapa ? karena mereka tidak mempunyai andil dalam penciptaan manusia.
Maksud hidup manusia adalah
1. Manusia diciptakan untuk ibadah
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia, melainkan (hanya untuk) beribadah.” (QS. Adz Dzariyat : 56 )
2. Manusia untuk menjadi khalifah
“Sesungguhnya Aku akan menjadikan di muka bumi ini khalifah (manusia)” (QS. Al Baqarah : 30 )
3. Manusia untuk ber’amar ma’ruf nahi mungkar dan sebagai naibnya Rasulullah SAW
“Kalian adalah sebaik-baik ummat yang dikeluarkan untuk manusia, yaitu untuk ber’amar ma’ruf dan nahi mungkar dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran : 110)

Jika manusia berhasil mewujudkan maksud hidupnya, maka akan dijadikan raja-raja di Jannah/Surga. “Jika kamu melihat Jannah seolah-olah adalah kenikmatan dan kerajaan yang besar” (QS. Al Insan: 20).

..::::::Dakwah is the purpose of our live::::...

 ^_^