Ketika Khadijah rha. menemui suaminya Baginda Muhammad SAW. Ia (Khadijah rha) baru saja pulang dari rumah Waraqah. Ia menanyakan tentang tanda-tanda kenabian yang ada pada suaminya, pada saat itu lah Rasulullah SAW menerima wahyu ke-dua awal surah Al-Mudatsir. Rasulullah SAW kemudian berkata kepada istrinya "Tidak ada waktu lagi untuk istirahat... Jibril AS telah menyampaikan perintah Allah SWT kepadaku agar aku menjumpai setiap orang untuk mengajaknya kepada Islam, wahai istriku siapakah orang yang akan mengikutiku". "Aku ya Rasulullah, aku mengimani bahwa Allah SWT tiada tuhan selain Dia dan engkau adalah Rasulullah" Jawab Khadijah rha.
Demikianlah awal pengorbanan mereka yang tiada berhenti sehingga segala keperluan diri dikebelakangkan hanya untuk kemuliaan Islam. Hingga di akhir hayatnya Rasululah SAW ketika ditemani oleh Jibril AS yang datang untuk menghiburnya, Beliau SAW bertanya "bagaimana keadaan ummatku sepeninggalanku?". Keadaan ummatnya saja yang terfikir hingga akhir hayatnya.
Menjelang akhir hayatnya Rasulullah SAW mengirim satu jema'ah besar keluar kota Madinah dipimpin seorang panglima yang masih sangat muda, anak dari seorang bekas budak hamba sahaya yang kemudian menjadi anak angkat Beliau, Usamah bin Zaid r.ahuma. Belum sampai ke tujuan Jema'ah tersebut mendapat berita tentang wafatnya Baginda Rasulullah SAW. Akhirnya diputuskan jema'ah tersebut kembali ke Madinah.
Di Madinatul Munawwarah keadaan pun sedikit kacau, karena begitu sedih dan bingung banyak dari sahabat r.anhum yang tidak tahu harus berbuat apa pada saat itu. Umar ra. menghunuskan pedang berkeliling Madinah sambil berkata tidak mungkin Rasulullah SAW wafat, Utsman ra. hanya diam tidak tahu berbuat apa.. Sehingalah Abu Bakar ra., setelah menjenguk jasad Baginda SAW, tampil ke depan menenangkan.
Singkat cerita...Usaha da'wah terhenti sebentar (dalam satu riwayat 7 hari), jema'ah yang dipimpin Usamah ra. belum diberangkatkan. Apa yang terjadi? Alim ulama menerangkan ketika da'wah terhenti sebentar ada 3 perkara besar terjadi:
1. Diangkatnya ketakutan dari hati orang kafir terhadap orang Islam2. Banyak orang kembali murtad dan sebagian tidak mau lagi membayar zakat.3. Munculnya Nabi palsu, Musailamah al Kahzab.
Tentara Romawi dan sekutu-sekutunya mengirim suatu kekuatan besar untuk membumi hanguskan Madinah dan seluruh orang Islam. Abu Bakar ra. memutuskan untuk segera mengirim kembali jema'ah yang sempat tertunda untuk menghadapi tentara kafir dengan tetap dipimpin oleh Usamah ra. Ada sebagian sahabat yang merasa keberatan dan ingin agar Usamah ra. dapat diganti dengan sahabat yang lebih berpengalaman tapi Abu Bakar ra. berkata,
"Belum lama jasad Rasulullah SAW dikebumikan, sekarang kalian hendak mengubah satu Sunnahnya"!
Jema'ah tersebut tetap dipimpin oleh Usamah bin Zaid r.anhuma. Semua sahabat yang tidak ada uzur diperintahkan untuk menyertai jema'ah tersebut. Amirul Mukminin, Abu Bakar ra. meminta kesediaan Usamah ra. untuk membolehkan beberapa sahabat tetap tinggal di Madinah untuk tugas-tugas lain. Khalid bin Walid ra. ditugaskan memimpin 500 orang untuk menghancurkan Musailamah al Kahzab, Umar ra. ditugaskan memimpin 50 orang untuk menhadapi mereka yang tidak mau membayar zakat. Sehingga tinggallah di kota Madinah orang-orang tua dan Abu Bakar ra. sebagai Amirul Maukminin untuk mengendalikan keadaan di Madinah. Seorang sahabat lagi bertanya kepada Abu Bakar ra. berkata "Wahai Amirul mukminin kalau semua kita menyertai jema'ah ini bagaimana keadaan kota Madinah yang di dalamnya ada Ummahatul mukminiin, istri-istri Rasulullah SAW". Abu Bakar ra berkata,
"Aku lebih rela istri-istri nabi diserang musuh dan bangkainya dicabik-cabik serigala daripada agama dan usaha agama ini terhenti".
Akhirnya Jema'ah tersebut diberangkatkan dengan dilepas sendiri oleh Amirul Mukminin Abu Bakar ra. Di Madinah, semua sahabat yang uzur diperintahkan untuk membuat 'amalan masjid. Mengisinya dengan Da'wah menjumpai orang-orang di Madinah yang keyakinannya goyah atau telah keluar dari Islam untuk dapat kembali kepada Islam. Mereka kemudian diajak ke Masjid Nabawi untuk duduk di dalam majelis dan dibangkitkan semangatnya kembali serta memperbanyak 'amal ibadah dan berdo'a memohon bantuan Allah SWT. Sebagaian lagi diberi tugas untuk melayani tamu-tamu yang datang dan menyiapkan segala keperluan jema'ah masjid.
Dari usaha dan kerja di Masjid Nabawi tersebut alim ulama menerangkan terbentuk beberapa jema'ah da'wah yang dikirim ke kawasan yang berdekatan dengan Madinah, menjumpai setiap orang yang berada di kabilah terdekat untuk kembali kepada Islam dan Iman. Sehingga di dalam suatu riwayat selama tiga hari-tiga malam di kota Madinah tidak terdengar suara adzan.
Kembali kepada Jema'ah yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid ra. Selama perjalanan untuk menghadapi tentara kafir mereka telah berhenti beberapa kali. Alim ulama menerangkan bahwa Usamah ra. telah memerintahkan jema'ah tersebut untuk berhenti dan membongkar segala perlengkapan dan memasang tenda dan berbagai keperluan lainnya. Ketika semua telah selesai, ia, Usamah ra. memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Semua sahabat r.ahum tha'at. Mereka segera membongkar tenda mengumpulkan segala perbekalan dan sebagainya. Di tempat yang lain Usamah ra. memberikan perintah yang sama sehingga beberapa kali jema'ah tersebut membongkar memasang dan membongkar lagi perbekalan serta tenda mereka.
Alim ulama menerangkan bahwa walaupun pada zhahirnya terlihat seperti tidak teratur dan tidak terorganisir akan tetapi dengan ketha'atan kepada Amir dan bergeraknya mereka tersebut fii sabilillaah. Allah SWT telah tanamkan kembali di dalam hati musuh Islam ketakutan terhadap ummat Islam. Tentara Romawi dan sekutunya menjumpai bekas-bekas perkemahan dan barang-barang perbekalan sahabat r.ahum dapat menghitung berapa kekuatan pasukan Muslimin. Di tempat yang lain mereka menjumpai tanda-tanda bahwa di tempat itu juga sepasukan yang besar pernah berkemah. Sehingga akhirnya tentara musuh Islam tersebut berkesimpulan kalau dengan jumlah sahabat r.ahum sedemikian besar yang berada di luar Madinah maka pasti jumlah yang lebih besar lagi ada di dalam Madinah. Dan mereka memutuskan untuk mundur karena mereka yakin mereka tidak akan menang menghadapi orang Islam. Begitu juga Musailamah al Kahzab dan pengikutnya beserta benteng di Yamamah yang telah didirikannya akhirnya dapat di hancurkan.
Tiga perkara besar yang terjadi akibat usaha da'wah terhenti sebentar akhirnya dapat dikembalikan. Orang-orang kembali kepada Islam dan mau membayar zakat, Allah SWT tanamkan kembali ketakutan di dalam hati musuh Islam dan Allah SWT hancurkan nabi palsu.
blog ini di buat hanya untuk sekedar coret-coret di dunia maya. dan mengingat kan tentag apa yang pernah saya baca. isinya dari beberapa sumber. semoga bermanfaat untuk yang baca
Showing posts with label kisah para sahabat Nabi muhammad SAW. Show all posts
Showing posts with label kisah para sahabat Nabi muhammad SAW. Show all posts
Monday, September 27, 2010
10 Sahabat yang dijamin masuk Surga..
Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq ra :
Khalifah Pertama, Teman Setia Yang Banyak Berkorban
Abu Bakar mencatat banyak keberhasilan. Di jazirah Arab, ia telah berhasil menyatukan kembali umat Islam yang pecah setelah Rasul wafat. Di masanya pula, Islam mulai menyebar ke luar jazirah Arab. Meskipun demikian, ia tetap dikenal sebagai seorang yang sederhana. Ia hidup sebagaimana rakyat. Tetap pergi sendiri ke pasar untuk berbelanja, serta tetap menjadi imam solat di masjid Nabawi.
Selama dua tahun tiga bulan memimpin umat, ia hanya mengeluarkan 8.000 dirham uang negara untuk kepentingan keluarganya. Jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran waktu itu. Ia juga memerintahkan pengumpulan catatan ayat-ayat Quran dari para sekretaris Rasul. Catatan-catatan itu dikumpulkan di rumah Hafshah, putri Umar. Abu Bakar meninggal dalam usia yang hampir sama dengan Rasul, 63 tahun.
Khalifah Umar al-Khattab ra :
Khalifah Kedua, Pintar Membedakan Antara Haq dan Batil
Khalifah Umar bin Al-Khattab ra merupakan khalifah Islam yang kedua selepas Khalifah Abu Bakar ra. Perlantikannya merupakan wasiat daripada Khalifah Abu Bakar.
Selepas memerintah negara Islam selama 10 tahun 6 bulan dan 4 hari, beliau pun wafat pada malam Rabu di akhir bulan Zulhijjah tahun 23 Hijrah, sewaktu berumur 63 tahun. Beliau mati kerana ditikam oleh Abu Lu’luah, bangsa Parsi yang beragama Majusi. Beliau dimakamkan berseblahan dengan makam Rasulullah dan Abu Bakar di Madinah.
Khalifah Umar adalah merupakan Khalifah yang banyak melakukan pembaharuan kepada negara Islam. Pentadbiran khalifah selepasnya pula diberikan kepada Saidina Uthman bin Affan ra.
Khalifah Utsman bin Affan ra :
Khalifah Ketiga, Malaikat Berasa Malu Kepadanya
Khalifah Utsman merupakan khalifah Islam yang ketiga selepas Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar al-Khattab. Beliau dilantik menjadi khalifah melalui persetujuan musyawarah.
Hingga suatu hari, tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal rumah beliau, masuklah kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur’an. Dalam riwayat lain, disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah Al Ghafiki dan Sudan bin Hamran.
Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H. dalam usia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.
Khalifah Ali bin Abu Thalib ra :
Khalifah Keempat, Singa Allah Yang Dimuliakan Wajahnya Oleh Allah
Ketika Khalifah Utsman bin Affan ra wafat, warga Madinah dan tiga pasukan dari Mesir, Basrah dan Kufah bersepakat memilih Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah baru. Menurut riwayat, Ali sempat menolak penunjukan itu. Namun semua mendesak beliau untuk memimpin umat. Pembaiatan Ali pun berlangsung di Masjid Nabawi.
Di Kaufah, Ali tengah berangkat ke masjid ketika diserang dengan pedang. Dua hari kemudian ia wafat. Peristiwa itu terjadi pada Ramadhan 40 Hijriah atau 661 Masehi. Maka berakhirlah model kepemimpinan Islam untuk negara yang dicontohkan Rasulullah. Muawiyah lalu menggunakan model "kerajaan" pemerintahan negara Islam. Ibukota pun dipindah dari Madinah ke Damaskus.
Thalhah bin Ubaidillah ra :
Syahid Yang Hidup
Thalhah wafat pada usia 60 tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basrah.
Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat radhiallahu 'anhum, "Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan di atas bumi, maka lihatlah Thalhah.
Hal itu juga difirmankan Allah SWT dalam firmanNya: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang -orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah janjinya." (Al-Ahzaab: 23)
Zubayr ibn al-Awwam ra :
Perajurit Allah Pengiring Rasulullah
Antara Thalhah dan Zubayr adalah dua serangkai. Bila yang seorang disebut maka yang kedua pun disebut. Mereka sama-sama beriman pada tahun yang sama dan wafat dalam tahun yang sama pula. Kedua-duanya tergolong dalam sepuluh orang yang "mubasyarin bil jannah".
Abdurrahman bin 'Auf ra :
Saudagar Yang Berniaga Dengan Allah
Abdurrahman bin 'Auf ra termasuk dalam kelompok delapan orang yang mula-mula memeluk Islam; termasuk dalam kelompok sepuluh yang diberi khabar gembira oleh Rasulullah SAW masuk syurga; termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah (sebagai formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah 'Umar bin Khattab al-Faruq; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.
Sewaktu beliau wafat, Ali bin abu thalib ra memberikan ucapan terakhir antara lain 'Ali berkata: “Anda telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan Anda telah berhasil menundukkan kepalsuan dunia.”
Sa'ad bin Abi Waqqash ra :
Pelempar Panah Pertama Pada Jalan Allah
Sa'ad bin Abi Waqqash sebagai salah seorang dari enam sahabat Nabi SAW yang terpercaya untuk memilih khalifah pengganti.
Saidina Utsman bin Affan ra, khalifah ketiga dalam Islam, mengangkat Sa'ad bin Abi Waqqash kembali menjadi Gubenur di Kufah.
Sa'ad bin Abi Waqqash mengundurkan diri ke Akik pada masa kekhalifahan Ali bin Abu Thalib ra, serta menghabiskan masa pensiunnya dengan tenang dan damai hingga ajalnya pada tahun 500 H (670 M) pada usia 70 tahun, dan beliau dikebumikan di Madinah.
Abu Ubaidah bin Jarrah ra :
Orang Kepercayaan Ummat
Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam. Kualitasnya dapat kita ketahui melalui sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah."
Menjelang kematian Abu Ubaidah ra, beliau memesankan kepada tenteranya, "Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan. Jika kalian terima, kalian akan baik, 'Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapa pun seorang melakukan seribu upaya, beliau pasti akan menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia, oleh sebab itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat. Assalamu’alaikum warahmatullah."
Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal ra dan mengatakan, "Ya Muaz! Imamilah shalat mereka." Setelah itu, Abu Ubaidah ra pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sepeninggalan Abu Ubaidah ra, Saidina Muaz bin Jabal ra berpidato di hadapan kaum Muslimin yang berbunyi, "Hai sekalian kaum Muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari beliau. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah."
Said Bin Zaid ra :
Kekasih Kepada Yang Maha Pengasih
Said bin Zaid bin Amru bin Nufail Al Adawi atau sering juga disebut sebagai Abul A'waar RA lahir di Mekah 22 tahun sebelum Hijrah.
Beliau termasuk sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga oleh Nabi SAW.
Ayah Said bernama Zaid bin Amru bin Nufail. Beliau tidak suka dan tidak pernah mau mengijuti ajaran jahiliyah. Beliau, yang diberi gelar Hanif, adalah penyelamat juga bayi perempuan. Bila ada anak yang hendak dibunuh masa itu, Zaid akan mengambilnya sebagai anak angkat. Beliau juga tak pernah menyekutukan Allah, juga tak pernah menggunakan apa pun sebagai perantaranya dengan Allah. Beliau pernah mempelajari agama Yahudi dan Nasrani, tapi masih juga tak puas, sampai akhirnya beliau bertemu dengan seorang rahib yang memberi tahu bahwa Allah akan mengirimkan seorang Nabi dari kalangan bangsa Arab. Oleh karena itu beliau memutuskan untuk kembali ke Mekah. Di tengah jalan beliau terbunuh oleh kawanan perompak sehingga tak sempat kembali ke Mekah. Tapi doanya agar Allah tidak menghalangi anaknya masuk Islam sebagaimana beliau terhalang, makbul.
Said bin Zaid RA meninggal di Madinah pada umur 73 tahun, 51 tahun sesudah Hijrah. Saad ibn Abi Waqqas dan Abdullah ibn Umar RA yang menolong masukkan jenazahnya ke dalam liang lahat.
Diceritakan oleh Said bin Zaid RA: AbdurRahman bin al-Akhnas berkata bahwa ketika beliau berada di dalam mesjid, seseorang menyebut-nyebut Ali RA. Maka Said bin Zaid bangkit dan berkata,,,,, "Saya berkata Demi Allah sepuluh orang akan masuk surga, Rasulullah SAW akan masuk surga, Abu Bakar akan masuk surga, Umar akan masuk surga, Usman akan masuk surga, Ali akan masuk surga, Talhah akan masuk surga, Zubair bin Al Awwam akan masuk surga, Saad bin Malik akan masuk surga, dan Abdurrahman bin Auf akan masuk surga. Jika ingin saya bisa menyebutkan yang kesepuluh. Orang-orang bertanya, siapa dia? siapa dia? Dia terdiam, sehingga mereka bertanya lagi, siapa dia? Beliau berkata, dia adalah Said bin Zaid" (Sunan Abu Daud, 35 no 4632)
Allahu a'lam bissawab..
Khalifah Pertama, Teman Setia Yang Banyak Berkorban
Abu Bakar mencatat banyak keberhasilan. Di jazirah Arab, ia telah berhasil menyatukan kembali umat Islam yang pecah setelah Rasul wafat. Di masanya pula, Islam mulai menyebar ke luar jazirah Arab. Meskipun demikian, ia tetap dikenal sebagai seorang yang sederhana. Ia hidup sebagaimana rakyat. Tetap pergi sendiri ke pasar untuk berbelanja, serta tetap menjadi imam solat di masjid Nabawi.
Selama dua tahun tiga bulan memimpin umat, ia hanya mengeluarkan 8.000 dirham uang negara untuk kepentingan keluarganya. Jumlah yang sangat sedikit untuk ukuran waktu itu. Ia juga memerintahkan pengumpulan catatan ayat-ayat Quran dari para sekretaris Rasul. Catatan-catatan itu dikumpulkan di rumah Hafshah, putri Umar. Abu Bakar meninggal dalam usia yang hampir sama dengan Rasul, 63 tahun.
Khalifah Umar al-Khattab ra :
Khalifah Kedua, Pintar Membedakan Antara Haq dan Batil
Khalifah Umar bin Al-Khattab ra merupakan khalifah Islam yang kedua selepas Khalifah Abu Bakar ra. Perlantikannya merupakan wasiat daripada Khalifah Abu Bakar.
Selepas memerintah negara Islam selama 10 tahun 6 bulan dan 4 hari, beliau pun wafat pada malam Rabu di akhir bulan Zulhijjah tahun 23 Hijrah, sewaktu berumur 63 tahun. Beliau mati kerana ditikam oleh Abu Lu’luah, bangsa Parsi yang beragama Majusi. Beliau dimakamkan berseblahan dengan makam Rasulullah dan Abu Bakar di Madinah.
Khalifah Umar adalah merupakan Khalifah yang banyak melakukan pembaharuan kepada negara Islam. Pentadbiran khalifah selepasnya pula diberikan kepada Saidina Uthman bin Affan ra.
Khalifah Utsman bin Affan ra :
Khalifah Ketiga, Malaikat Berasa Malu Kepadanya
Khalifah Utsman merupakan khalifah Islam yang ketiga selepas Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar al-Khattab. Beliau dilantik menjadi khalifah melalui persetujuan musyawarah.
Hingga suatu hari, tanpa diketahui oleh pengawal-pengawal rumah beliau, masuklah kepala gerombolan yaitu Muhammad bin Abu Bakar (Gubernur Mesir yang Baru) dan membunuh Utsman bin Affan yang sedang membaca Al-Qur’an. Dalam riwayat lain, disebutkan yang membunuh adalah Aswadan bin Hamrab dari Tujib, Mesir. Riwayat lain menyebutkan pembunuhnya adalah Al Ghafiki dan Sudan bin Hamran.
Beliau wafat pada bulan haji tahun 35 H. dalam usia 82 tahun setelah menjabat sebagai Khalifah selama 12 tahun. Beliau dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.
Khalifah Ali bin Abu Thalib ra :
Khalifah Keempat, Singa Allah Yang Dimuliakan Wajahnya Oleh Allah
Ketika Khalifah Utsman bin Affan ra wafat, warga Madinah dan tiga pasukan dari Mesir, Basrah dan Kufah bersepakat memilih Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah baru. Menurut riwayat, Ali sempat menolak penunjukan itu. Namun semua mendesak beliau untuk memimpin umat. Pembaiatan Ali pun berlangsung di Masjid Nabawi.
Di Kaufah, Ali tengah berangkat ke masjid ketika diserang dengan pedang. Dua hari kemudian ia wafat. Peristiwa itu terjadi pada Ramadhan 40 Hijriah atau 661 Masehi. Maka berakhirlah model kepemimpinan Islam untuk negara yang dicontohkan Rasulullah. Muawiyah lalu menggunakan model "kerajaan" pemerintahan negara Islam. Ibukota pun dipindah dari Madinah ke Damaskus.
Thalhah bin Ubaidillah ra :
Syahid Yang Hidup
Thalhah wafat pada usia 60 tahun dan dikubur di suatu tempat dekat padang rumput di Basrah.
Rasulullah pernah berkata kepada para sahabat radhiallahu 'anhum, "Orang ini termasuk yang gugur dan barang siapa senang melihat seorang syahid berjalan di atas bumi, maka lihatlah Thalhah.
Hal itu juga difirmankan Allah SWT dalam firmanNya: "Di antara orang-orang mukmin itu ada orang -orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah janjinya." (Al-Ahzaab: 23)
Zubayr ibn al-Awwam ra :
Perajurit Allah Pengiring Rasulullah
Antara Thalhah dan Zubayr adalah dua serangkai. Bila yang seorang disebut maka yang kedua pun disebut. Mereka sama-sama beriman pada tahun yang sama dan wafat dalam tahun yang sama pula. Kedua-duanya tergolong dalam sepuluh orang yang "mubasyarin bil jannah".
Abdurrahman bin 'Auf ra :
Saudagar Yang Berniaga Dengan Allah
Abdurrahman bin 'Auf ra termasuk dalam kelompok delapan orang yang mula-mula memeluk Islam; termasuk dalam kelompok sepuluh yang diberi khabar gembira oleh Rasulullah SAW masuk syurga; termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah (sebagai formatur) dalam pemilihan khalifah sesudah 'Umar bin Khattab al-Faruq; dan seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selagi beliau masih hidup di tengah-tengah masyarakat kaum muslimin.
Sewaktu beliau wafat, Ali bin abu thalib ra memberikan ucapan terakhir antara lain 'Ali berkata: “Anda telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan Anda telah berhasil menundukkan kepalsuan dunia.”
Sa'ad bin Abi Waqqash ra :
Pelempar Panah Pertama Pada Jalan Allah
Sa'ad bin Abi Waqqash sebagai salah seorang dari enam sahabat Nabi SAW yang terpercaya untuk memilih khalifah pengganti.
Saidina Utsman bin Affan ra, khalifah ketiga dalam Islam, mengangkat Sa'ad bin Abi Waqqash kembali menjadi Gubenur di Kufah.
Sa'ad bin Abi Waqqash mengundurkan diri ke Akik pada masa kekhalifahan Ali bin Abu Thalib ra, serta menghabiskan masa pensiunnya dengan tenang dan damai hingga ajalnya pada tahun 500 H (670 M) pada usia 70 tahun, dan beliau dikebumikan di Madinah.
Abu Ubaidah bin Jarrah ra :
Orang Kepercayaan Ummat
Beliau termasuk orang yang pertama masuk Islam. Kualitasnya dapat kita ketahui melalui sabda Nabi SAW: "Sesungguhnya setiap umat mempunyai orang kepercayaan, dan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah."
Menjelang kematian Abu Ubaidah ra, beliau memesankan kepada tenteranya, "Saya pesankan kepada kalian sebuah pesan. Jika kalian terima, kalian akan baik, 'Dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, puasalah di bulan Ramadhan, berdermalah, tunaikanlah ibadah haji dan umrah, saling nasihat menasihatilah kalian, sampaikanlah nasihat kepada pimpinan kalian, jangan suka menipunya, janganlah kalian terpesona dengan keduniaan, karena betapa pun seorang melakukan seribu upaya, beliau pasti akan menemukan kematiannya seperti saya ini. Sungguh Allah telah menetapkan kematian untuk setiap pribadi manusia, oleh sebab itu semua mereka pasti akan mati. Orang yang paling beruntung adalah orang yang paling taat kepada Allah dan paling banyak bekalnya untuk akhirat. Assalamu’alaikum warahmatullah."
Kemudian beliau melihat kepada Muaz bin Jabal ra dan mengatakan, "Ya Muaz! Imamilah shalat mereka." Setelah itu, Abu Ubaidah ra pun menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Sepeninggalan Abu Ubaidah ra, Saidina Muaz bin Jabal ra berpidato di hadapan kaum Muslimin yang berbunyi, "Hai sekalian kaum Muslimin! Kalian sudah dikejutkan dengan berita kematian seorang pahlawan, yang demi Allah saya tidak menemukan ada orang yang lebih baik hatinya, lebih jauh pandangannya, lebih suka terhadap hari kemudian dan sangat senang memberi nasihat kepada semua orang dari beliau. Oleh sebab itu kasihanilah beliau, semoga kamu akan dikasihani Allah."
Said Bin Zaid ra :
Kekasih Kepada Yang Maha Pengasih
Said bin Zaid bin Amru bin Nufail Al Adawi atau sering juga disebut sebagai Abul A'waar RA lahir di Mekah 22 tahun sebelum Hijrah.
Beliau termasuk sepuluh orang yang diberi kabar gembira akan masuk surga oleh Nabi SAW.
Ayah Said bernama Zaid bin Amru bin Nufail. Beliau tidak suka dan tidak pernah mau mengijuti ajaran jahiliyah. Beliau, yang diberi gelar Hanif, adalah penyelamat juga bayi perempuan. Bila ada anak yang hendak dibunuh masa itu, Zaid akan mengambilnya sebagai anak angkat. Beliau juga tak pernah menyekutukan Allah, juga tak pernah menggunakan apa pun sebagai perantaranya dengan Allah. Beliau pernah mempelajari agama Yahudi dan Nasrani, tapi masih juga tak puas, sampai akhirnya beliau bertemu dengan seorang rahib yang memberi tahu bahwa Allah akan mengirimkan seorang Nabi dari kalangan bangsa Arab. Oleh karena itu beliau memutuskan untuk kembali ke Mekah. Di tengah jalan beliau terbunuh oleh kawanan perompak sehingga tak sempat kembali ke Mekah. Tapi doanya agar Allah tidak menghalangi anaknya masuk Islam sebagaimana beliau terhalang, makbul.
Said bin Zaid RA meninggal di Madinah pada umur 73 tahun, 51 tahun sesudah Hijrah. Saad ibn Abi Waqqas dan Abdullah ibn Umar RA yang menolong masukkan jenazahnya ke dalam liang lahat.
Diceritakan oleh Said bin Zaid RA: AbdurRahman bin al-Akhnas berkata bahwa ketika beliau berada di dalam mesjid, seseorang menyebut-nyebut Ali RA. Maka Said bin Zaid bangkit dan berkata,,,,, "Saya berkata Demi Allah sepuluh orang akan masuk surga, Rasulullah SAW akan masuk surga, Abu Bakar akan masuk surga, Umar akan masuk surga, Usman akan masuk surga, Ali akan masuk surga, Talhah akan masuk surga, Zubair bin Al Awwam akan masuk surga, Saad bin Malik akan masuk surga, dan Abdurrahman bin Auf akan masuk surga. Jika ingin saya bisa menyebutkan yang kesepuluh. Orang-orang bertanya, siapa dia? siapa dia? Dia terdiam, sehingga mereka bertanya lagi, siapa dia? Beliau berkata, dia adalah Said bin Zaid" (Sunan Abu Daud, 35 no 4632)
Allahu a'lam bissawab..
Subscribe to:
Posts (Atom)